Featured Video

Sabtu, 01 Januari 2011

Sains & Teknologi

Ubur-ubur Mengancam Kehidupan Laut

Salah satu spesies ubur-ubur memiliki tentakel yang beracun dan dapat mematikan (antigravitas.com)

Ubur-ubur merupakan makhluk laut yang jelek, cukup berbahaya, dan tidak seperti pembunuh lainnya di samudera yakni hiu. Ubur-ubur tidak terlalu enak untuk disantap. Sayangnya, hewan itu kini siap menguasai dua pertiga bagian planet Bumi.

Pada tahun 2006 sampai 2010, sekelompok kawanan besar ubur-ubur menginvasi pantai-pantai di Spanyol. Menyengat puluhan ribu perenang. Di sejumlah tempat, ubur-ubur ini hadir dengan konsentrasi hingga 10 ekor per meter persegi.

Kelompok ubur-ubur ini juga muncul di kawasan lain di seluruh dunia. Tahun 2007, Hawaii dan Irlandia mengalami hama ubur-ubur. Perairan Israel dan Prancis di tahun 2008. Tunisia dan Italia diserbu pada 2009. Di Jepang, ubur-ubur berukuran hingga 1,8 meter makin banyak bermunculan.

Di perairan kawasan utara Australia, populasi ubur-ubur dengan tentakel hingga 2,5 meter juga meledak. Padahal, ubur-ubur ini punya racun yang bisa membunuh manusia dalam tiga menit.

Menurut María Luz Fernández de Puelles, peneliti asal Spanish Institute of Oceanography's Balearic Oceanography Center, ada tiga penyebabnya. Seperti dikutip dari Mother Nature Network, 28 Desember 2010, ubur-ubur hidup subur sebagai efek samping dari polusi, kenaikan temperatur air dan penangkapan ikan yang berlebih.

Manusia terlalu banyak membuang limbah, termasuk limbah pertanian ke sungai yang akhirnya mengalir ke laut. Seperti diketahui, pupuk didesain untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Ternyata, pupuk juga berfungsi sama di laut dengan meningkatkan pertumbuhan ganggang.

Yang jadi masalah, ganggang merupakan makanan bagi mikro organisme di laut, yang merupakan makanan utama para ubur-ubur. Semakin melimpahnya ganggang dan mikro organisme, semakin terjamin pula hidup ubur-ubur.

Kedua, pemanasan global membuat suhu air laut makin hangat. Dari penelitian, ini memicu ubur-ubur makin subur dalam bereproduksi dan membuat mereka berenang semakin mendekati pantai. Demikian pula dengan ubur-ubur tropis yang memiliki tentakel beracun.

Ketiga, penangkapan ikan yang berlebihan, khususnya tuna, hiu, dan juga penyu laut membuat ubur-ubur semakin bebas berkeliaran. Padahal, hewan-hewan pemangsa itu biasanya memakan ubur-ubur dan telur-telurnya.

“Ubur-ubur adalah pemangsa yang sangat rakus dan bersaing dengan organisme dan plankton lain untuk berebut makanan,” kata de Puelles. “Dengan melejitnya pertumbuhan ubur-ubur, maka mereka akan mengubah struktur ekosistem di laut secara drastis.”


Ikan Jantan Jagoan Bangkitkan Gairah Betina

Bila Anda seekor ikan Cichlid jantan, sebaiknya Anda adalah ikan petarung. Sebab, ikan Cichlid jantan yang jago berkelahi bisa membuat para Cichlid betina klepek-klepek.
Menurut riset terakhir para ilmuwan, ikan-ikan Cichlid betina Afrika mendapatkan kesempatan reproduksi hanya ketika mereka mendapati Cichlid pejantan sebagai ikan yang memenangkan sebuah perkelahian. Birahi Cichlid betina akan terangsang bila ia mendapati pejantan mereka memenangkan perkelahian. 
Menurut peneliti riset ini, Julie Desjardins, mungkin ini sama dengan seorang wanita yang mengencani seorang petinju dan ia melihat calon pasangannya berhasil menggebuki orang lain. 
Desjardins, yang tengah menyelesaikan riset postdoctoral pada ilmu Biologi di Stanford University, mempelajari 15 ikan betina Cichlid bereaksi terhadap pertarungan ikan jantannya, dengan membedah otak ikan betina sesaat setelah melihat perkelahian. 
Para peneliti memisahkan tiga cawan transparan yang terpisah terhadap masing-masing dua ikan jantan dan satu ikan betina. Memasuki hari kedua, ikan betina menunjukkan ketertarikan terhadap salah satu jantan yang ia pilih, dan sebaliknya jantan itu juga menunjukkan ketertarikkan kepada betina," kata Desjardins
Pada hari ketiga hari, dua ikan jantan disatukan dalam sebuah tempat. Karena Cichlid adalah ikan teritorial, maka tak lama kemudian perkelahian pun pecah. Kemudian para peneliti langsung membedah otak ikan betina untuk mengukur RNA-nya untuk melihat aktivasi di beberapa wailayah otak.
Hasilnya para peneliti mendapati ikan betina yang melihat pejantan pilihan mereka menang berkelahi, mengalami peningkatan aktivitas di wilayah otak yang menangani kepuasan dan reproduksi.
"Pada kasus ini, gairah ikan betina ini akan terbangkitkan dan mereka secara fisik siap untuk kawin dengan ikan pejantan jagoan tersebut," kata Desjardins. Lebih lanjut, peneliti akan meneliti respon ikan betina bila pejantan pilihan mereka kalah di pertarungan.
Setidaknya, para peneliti mencurigai bahwa efek ini juga terjadi tak hanya pada ikan, melainkan juga pada manusia. "Intuisi kami adalah respons ini juga terjadi pada manusia," kata Russ Fernald, Profesor Biologi Stanford, yan juga ikut dalam riset.


Peneliti Temukan Hewan Hidup Tanpa Oksigen

Loricifera, hewan serupa ubur-ubur yang tak butuh oksigen (wikipedia.org)


Sekelompok peneliti laut dalam asal Italia dan Denmark menemukan hewan multiseluler yang melangsungkan seluruh hidupnya tanpa menghirup oksigen.

Kelompok peneliti itu menemukan tiga spesies Loricifera (hewan serupa ubur-ubur berukuran panjang kurang dari satu milimeter) di endapan cekungan L’Atalante, sebuah kawasan perairan asin tak beroksigen di kedalaman 3000 meter, dasar laut Mediterrania, atau laut tengah.

Ketika Antonio Pusceddu, peneliti dari Marche Polytechnic University, Italia, dan rekan-rekannya menemukan Loricifera tersebut, mereka memperkirakan bahwa hewan itu jatuh ke dasar laut setelah hewan itu mati.

“Kami kira sangatlah tidak mungkin mereka bisa hidup di sana,” kata Pusceddu, seperti dikutip dari Discovermagazine, 27 Desember 2010. Akan tetapi, dari uji coba yang dilakukan pada dua ekspedisi berikutnya, diketahui bahwa hewan yang ditemukan itu masih hidup.

Pusceddu menyebutkan, Loricifera memiliki cara adaptasi yang unik terhadap lingkungan bebas oksigen.

Hewan ini tidak memiliki mitochondria (sel yang mampu mengonversi oksigen menjadi energi seperti yang ada di seluruh sel hewan lainnya). Akan tetapi mereka menggunakan struktur yang menyerupai hydrogenosom, organ yang menggunakan mikroba untuk menghasilkan energi.

Yang menarik, temuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan hewan yang lebih kompleks di lingkungan keras bebas oksigen lainnya. Baik di Bumi ataupun di tempat-tempat lain.

Namdur Betina, Burung Paling Materialistis

Namdur jantan sedang menyusun sarangnya (duskyswondersite.com)

Bowerbird atau burung Namdur jantan, seperti layaknya kaum pejantan dari spesies lain, mencari perhatian calon pasangan betinanya dengan memamerkan kekayaan.

Sebagai contoh, ia bisa mengumpulkan sampai 5 ribu buah batur, tulang, kerang, hingga berbagai benda buatan manusia untuk membangun sarang di mana ia akan menunggu betina yang tertarik. Dan seperti pejantan umumnya, Namdur jantan juga menyombongkan apa yang mereka punyai.

Selain itu, Namdur jantan juga harus pandai merayu dengan beratraksi di depan si betina dengan menyanyi dan memamerkan kebolehan lainnya. Namdur betina kemudian akan memilih pejantan yang paling “kaya” yang memiliki sarang paling bagus serta menarik dan yang berbakatlah yang berhak mengawininya.

Ternyata, tidak itu saja. John Endler, ekolog asal Deakin University, Australia melaporkan, burung Namdur jantan juga menggunakan perhiasan-perhiasan yang mereka kumpulkan untuk membuat ilusi optik.

Sarang milik Namdur jantan yang sudah selesai 

Seperti dikutip dari Discovermagazine, 25 Desember 2010, burung Namdur jantan akan mengatur pernak-pernik mereka dari ukuran yang terbesar hingga terkecil. Mereka menyusunnya sedemikian rupa hingga membentuk jalan yang menuju ke sarang mereka.

Penyusunan pernak-pernik itu membuat sarang mereka seolah-olah terlihat lebih kecil, sedangkan para pejantan tampak gagah bagi para betina yang melihat ke arah sarang itu.

“Menggunakan trik ini, yang disebut dengan forced perspective, pejantan dapat merayu para betina yang melintas dengan postur tubuh mereka yang seolah-olah tinggi besar,” ucap Endler.

Saat objek yang sudah disusun Namdur jantan diacak, mereka kemudian segera mengembalikan susunannya ke posisi yang benar, sesuai dengan yang sudah mereka buat sebelumnya. Pasalnya, bila tidak menarik, Namdur betina akan begitu saja meninggalkan sarang pejantan yang malang itu.

Peneliti Temukan Bukti Pemusnahan Massal

Fosil lumba-lumba purbakala yang ditemukan di Luoping (livescience.com)

Pada sebuah situs penggalian di Luoping, provinsi Yunnan, kawasan barat daya China, peneliti menemukan hampir 20 ribu fosil. Penemuan fosil dalam jumlah sangat banyak ini sama artinya dengan penemuan sebuah ekosistem lengkap.

Reptil, ikan, dan fosil-fosil biota laut lain melengkapi sejumlah fosil berukuran lebih kecil yang ditemukan sebelumnya.

Kumpulan fosil itu diyakini sebagai bukti dari pembinasaan massal makhluk hidup di Bumi, akibat aktivitas vulkanik yang terjadi di akhir era Permian, sekitar 252 juta tahun lalu.

Mike Benton, Profesor dari Bristol University School of Eearth Sciences dan Shixue Hu of the Chengdu Geological Center China menyebutkan, lapisan batu kapur setebal 16 meter yang melindung fosil-fosil ini berasal dari masa lalu. “Ketika itu, China Selatan masih merupakan sebuah pulau raksasa yang berada sedikit di atas garis katulistiwa dan memiliki iklim tropis,” ucapnya.

“Ditemukannya fosil tanaman darat juga mengindikasikan bahwa komunitas perairan ini tinggal di dekat hutan pohon-pohon pakuan,” ucap Benton, seperti dikutip dari Examiner, 23 Desember 2010.

Fosil-fosil yang ditemukan, kata Benton, tersimpan dengan sangat baik, dengan lebih dari separuhnya tetap dalam kondisi lengkap, termasuk jaringan lunaknya. “Tampaknya mereka dilindungi sepanjang masa oleh lapisan mikroba yang segera menutup tubuh makhluk hidup itu tak lama setelah mereka mati,” ucapnya.

Sepanjang sejarahnya selama 4,5 miliar tahun terakhir, planet Bumi telah mengalami sejumlah kejadian pemusnahan massal. Akan tetapi, dikutip dari RedOrbit, kejadian dahsyat yang menimpa ekosistem di era Permian itu terjadi di skala “yang tidak ada tandingannya” dan menyebabkan musnahnya 96 persen kehidupan laut dan 70 persen vertebrata darat.

Hanya satu dari sepuluh spesies yang selamat dan mereka menjadi basis dari pulihnya kehidupan di periode waktu berikutnya, yang disebut Triassic.

“Masa pemulihan dari pemusnahan massal ini tampaknya membutuhkan waktu antara 1 sampai 4 juta tahun,” kata Benton. “Kejadian di akhir masa Permian ini sangat dahsyat, membunuh sekitar 90 persen spesies sampai ekosistem-ekosistem tidak memiliki apapun yang tersisa untuk melanjutkan kehidupannya,” ucap Benton.

Saat ini peneliti fokus untuk mencari petunjuk yang bisa membantu mereka menentukan spesies apa saja yang berhasil melewati kejadian di akhir era Permian itu. Selanjutnya, fosil-fosil ‘harta karun’ dari era Permian ini akan digunakan oleh peneliti untuk mempelajari bagaimana spesies tertentu dapat beradaptasi dan bertahan setelah mengalami pemusnahan massal.

Manusia Kawini Neanderthal

Nenek moyang manusia modern diprekirakan pernah kawin dengan Neandertal (zmescience.com)

Sekelompok biolog internasional mengumumkan bahwa Neanderthal dan manusia modern kemungkinan besar telah berkawin silang di kawasan Timur Tengah. Perkawinan ini terjadi setelah mereka bermigrasi keluar dari Afrika, sekitar 100 ribu tahun lalu.

Hasilnya, banyak manusia modern yang hidup di masa kini membawa satu sampai empat persen gen manusia Neanderthal.

Seperti dikutip dari Discovermagazine, 20 Desember 2010, Svante Paabo dan timnya dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, menganalisa tiga tulang Neanderthal yang ditemukan di gua Vindija di Kroasia.

Paabo kemudian membandingkan genome-nya dengan milik manusia modern yang tinggal di kawasan selatan Afrika, Afrika Barat, Papua New Guinea, China, dan barat Eropa.

Ternyata, Neanderthal memiliki banyak kesamaan dengan mereka yang tinggal di Eropa dan Asia Timur dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Afrika.

“Tautan gen di antara dua kelompok manusia ini kemungkinan terjadi sebelum manusia modern datang ke dataran Eropa sekitar 30 sampai 40 ribu tahun lalu,” kata Paabo menyimpulkan.

Temuan Paabo ini serupa dengan temuan antropolog genetik dari University of Mexico. Ketika itu, sekelompok antropolog itu menganalisa data dari 1.983 manusia modern asal Afrika, Eropa, Asia, Oceania, dan Amerika.

Kesimpulannya, Neanderthal atau kelompok manusia purba lain pasti pernah kasin silang dengan nenek moyang manusia modern setidaknya satu kali, di kawasan timur Mediterania, sesaat setelah manusia bermigrasi keluar dari Afrika.

Diperkirakan, ini juga yang menyebabkan mengapa rekam jejak genetik Neanderthal hadir di seluruh manusia modern non Afrika, tidak hanya manusia Eropa saja. “Saat ini, kita sedang berupaya untuk mengetahui lebih lanjut berapa banyak kawin silang telah terjadi,” kata Keith Hunley, peneliti dari University of Mexico.


Ulat Bulu pun Bisa Bersiul

Ulat bulu yang pandai bersiu (Livescience.com)
Ulat bulu ternyata tak cuma mahir membuat sekujur tubuh Anda gatal-gatal tak keruan, tapi juga bisa bersiul layaknya seekor burung.
Memang ulat bulu memang tak akan bersiul seperti burung melalui mulut mereka. Namun, menurut para peneliti, ulat bulu bisa bersiul dengan melalui sisi-sisi tubuh mereka.
Ini mereka lakukan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengusir burung-burung predator. Dari hasil penelitian terhadap ulat bulu sphinx walnut caterpillar atau Arnorpha juglandis, asal siulan mereka berasal dari tubuh mereka.
Seperti dikutip dari Livescience, setelah diamati melalui video berkecepatan tinggi, para periset berkesimpulan ketika ulat bersiul, mereka menekan kepala mereka ke belakang.
Ini dilakukan untuk menekan rongga di tubuh mereka sehingga suara siulan akan keluar melalui delapan pasang lubang angin di perut mereka.
Masing-masing pasang rongga perut itu berdecit sekitar empat detik, dengan rentang frekuensi yang bisa didengar oleh burung maupun manusia, hingga suara ultrasound.
Saat para peneliti mengamati ulat tersebut, burung warbler (burung yang pandai berkicau) yang hendak memangsa ulat itu, biasanya akan kaget dan lari tunggang langgang ketika ulat mulai bersiul. Siulan ulat bulu ini selalu menyelamatkannya dari sergapan burung warbler.
"Burung-burung ini sepertinya terkaget-kaget dengan siulan si ulat karena tidak mengira akan bunyi tersebut," ujar Jayne Yack, Neuroethologist dari Carleton University, Ottawa Kanada.
Gen Manusia dan Terumbu Karang Sama

Terumbu karang punya kesamaan genetik dengan manusia (Antara/ Prasetyo Utomo)

Sekelompok ilmuwan terkejut ketika mengetahui bahwa terumbu karang, salah satu bentuk kehidupan tertua di Bumi, memiliki gen yang sama dengan manusia. Kesamaan gen penyusun tubuh mencapai 70 persen.

Menurut penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Nature, tim peneliti telah mengurutkan genome dari organisme yang sudah berusia 650 juta tahun itu selama lima tahun.

“Terumbu karang memiliki tingkat kemiripan yang rendah dengan bangsa hewan,” kata Kenneth S. Kosik, peneliti asal University of California-Santa Barbara, seperti dikutip dari TG Daily, 10 Desember 2010.
“Contohnya, mereka tidak punya banyak neuron. Akan tetapi, genome terumbu karang membuktikan adanya banyak gen di dalam neuron,” ucapnya.

Peneliti lain dari Australia, yang telah menyelesaikan pengamatan genetik terhadap terumbu karang di Great Barrier Reef juga menemukan hal serupa.

“DNA yang sama antara manusia dan terumbu karang mencakup sejumlah DNA yang umumnya terkait dengan penyakit dan kanker,” kata Bernard Degnan, peneliti dari University of Queensland. “Ini membuka peluang adanya terobosan dalam penelitian sel dan mengatasi kanker,” ucapnya.

Degnan menyebutkan, dengan mengamati sel terumbu karang, kemungkinan kita bisa mendapatkan informasi seputar seluk beluk sel tubuh kita sendiri dan bagaimana kita dapat memanfaatkan sel terumbu karang untuk aplikasi medis di masa depan.

“Melindungi terumbu karang di samudera sangatlah penting bagi kelestarian mereka dan ekosistem di dalam laut,” kata Degnan. “Akan tetapi, temuan ini diharapkan dapat membuat manusia lebih melihat manfaat lain yang disediakan terumbu karang, yakni untuk riset medis yang menguntungkan manusia,” ucapnya.


Merkuri, Penyebab Burung Jadi Homoseks

Burung Ibis putih teranjam jadi homoseks akibat merkuri (newscientist.com)

Kadar merkuri, meskipun rendah, yang terkonsumsi ibis putih jantan dapat menyebabkan burung itu kawin dengan sesama jenis, dan mengabaikan betinanya. Akibatnya, banyak ibis betina tidak dibuahi, dan keturunan burung-burung tersebut makin sedikit.

Ini bukanlah pertamakalinya polutan didapati telah mengubah preferensi seksual hewan. Banyak zat kimia bisa “membetinakan” para pejantan atau menurunkan tingkat kesuburan, meski pejantan yang terpengaruh dengan cara ini masih lebih suka berhubungan seks dengan betina.

Seperti diketahui, merkuri merupakan bahan kimia yang sangat berbahaya, khususnya dalam bentuk methylmercury, yang mampu menurunkan populasi burung-burung liar dengan merusak kelakuan pada induk burung.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah merkuri juga mempengaruhi perkawinan, Peter Frederick, peneliti dari University of Florida dan Nilmini Jayasena dari University of Peradeniya, Sri Lanka menangkap 160 burung ibis putih muda dari kawasan Florida selatan. Mereka kemudian menyiapkan makananan yang terkontaminasi dengan methylmercury pada burung-burung itu dan memantaunya secara ketat.

Burung-burung kemudian dibagi ke dalam empat kelompok. Satu kelompok memakan makanan dengan 0,3 parts per million (ppm) methylmercury yang dianggap oleh sebagian besar negara bagian AS terlalu tinggi untuk konsumsi manusia. Kelompok kedua mendapatkan 0,1 ppm, kelompok ketiga mendapat 0,05 ppm. Dosis 0,05 ppm merupakan dosis rendah yang biasa dikonsumsi burung itu di lingkungan liar saat ini. Kelompok keempat tidak diberikan merkuri.

Dari tiga kelompok yang diberikan merkuri, jumlah pejantan yang menjadi homoseksual meningkat secara signifikan. Dua ekor pejantan kemudian berpasangan, membangun sarang bersama-sama dan berduaan selama beberapa pekan. Dosis lebih tinggi meningkatkan efek ini, yakni mencapai 55 persen di kelompok burung yang diberi dosis 0,3 ppm. Secara total, perkawinan jantan dengan jantan mencapai 81 persen di kelompok yang dipasok merkuri.

Di saat yang sama, intensitas hubungan pasangan yang tetap normal juga menurun dan pasangan normal ini menjadi orang tua yang buruk akibat keracunan methylmercury tersebut. Kombinasi efek menyukai sesama pejantan dan memburuknya hubungan antara pasangan jantan-betina bisa sangat parah. “Dalam skenario terburuk, produksi keturunan bisa turun hingga 50 persen,” kata Frederick, seperti dikutip dari Newscientist, 2 Desember 2010.

Meski menyebutkan bahwa burung lain juga mengalami hal serupa, Frederick mengatakan belum jelas kelompok hewan lain mana yang terkena imbas. Selain itu, belum dapat dibuktikan pula keracunan merkuri dapat mempengaruhi orientasi seksual pada manusia meski telah diteliti selama bertahun-tahun. “Jika efeknya pada manusia sama kuat seperti pada burung ibis, pasti peneliti sudah menemukannya,” kata Frederick.


Ikan Jantan Jagoan Bangkitkan Gairah Betina

Ikan jantan Cichlid hendak bertarung, ikan betina mengawas (Livescience.com)
Bila Anda seekor ikan Cichlid jantan, sebaiknya Anda adalah ikan petarung. Sebab, ikan Cichlid jantan yang jago berkelahi bisa membuat para Cichlid betina klepek-klepek.
Menurut riset terakhir para ilmuwan, ikan-ikan Cichlid betina Afrika mendapatkan kesempatan reproduksi hanya ketika mereka mendapati Cichlid pejantan sebagai ikan yang memenangkan sebuah perkelahian. Birahi Cichlid betina akan terangsang bila ia mendapati pejantan mereka memenangkan perkelahian.
Menurut peneliti riset ini, Julie Desjardins, mungkin ini sama dengan seorang wanita yang mengencani seorang petinju dan ia melihat calon pasangannya berhasil menggebuki orang lain.
Desjardins, yang tengah menyelesaikan riset postdoctoral pada ilmu Biologi di Stanford University, mempelajari 15 ikan betina Cichlid bereaksi terhadap pertarungan ikan jantannya, dengan membedah otak ikan betina sesaat setelah melihat perkelahian.
Para peneliti memisahkan tiga cawan transparan yang terpisah terhadap masing-masing dua ikan jantan dan satu ikan betina. Memasuki hari kedua, ikan betina menunjukkan ketertarikan terhadap salah satu jantan yang ia pilih, dan sebaliknya jantan itu juga menunjukkan ketertarikkan kepada betina," kata Desjardins
Pada hari ketiga hari, dua ikan jantan disatukan dalam sebuah tempat. Karena Cichlid adalah ikan teritorial, maka tak lama kemudian perkelahian pun pecah. Kemudian para peneliti langsung membedah otak ikan betina untuk mengukur RNA-nya untuk melihat aktivasi di beberapa wailayah otak.
Hasilnya para peneliti mendapati ikan betina yang melihat pejantan pilihan mereka menang berkelahi, mengalami peningkatan aktivitas di wilayah otak yang menangani kepuasan dan reproduksi.
"Pada kasus ini, gairah ikan betina ini akan terbangkitkan dan mereka secara fisik siap untuk kawin dengan ikan pejantan jagoan tersebut," kata Desjardins. Lebih lanjut, peneliti akan meneliti respon ikan betina bila pejantan pilihan mereka kalah di pertarungan.
Setidaknya, para peneliti mencurigai bahwa efek ini juga terjadi tak hanya pada ikan, melainkan juga pada manusia. "Intuisi kami adalah respons ini juga terjadi pada manusia," kata Russ Fernald, Profesor Biologi Stanford, yan juga ikut dalam riset.


Persamaan Manusia dengan Kecoa

Sebagian besar kecoak lebih memilih menggunakan arah kanan (academic.ru)
Saat kita mendapati kecoak tergesa-gesa melarikan diri ke sudut yang gelap ketika kita menyalakan lampu, yang kita rasakan umumnya adalah perasaan jijik, bukan rasa akrab.

Akan tetapi, dari penelitian terbaru terungkap bahwa sebagian besar manusia ternyata memiliki perilaku mendasar yang sama dengan makhluk menjijikkan itu, yakni lebih menggunakan tangan kanan.

Pada penelitian, seperti dikutip dari ScienceMag, 12 Desember 2010, peneliti melepaskan kecoak pada tabung berbentuk Y. Tabung itu sebelumnya sudah diberi aroma vanilla atau ethanol untuk menarik serangga itu melewati percabangan. Peneliti kemudian mencatat arah mana yang diambil oleh kecoak.

Ternyata, 57 persen kecoak dengan antena lengkap lebih memilih mengambil arah ke kanan. Pemilihan arah kanan ini juga tidak berubah meskipun peneliti memotong salah satu antena sensitif kecoak yang berguna sebagai indra peraba dan penciuman.

Temuan yang akan dipublikasikan pada Journal of Insect Behaviour edisi mendatang ini menambah bukti bahwa bahkan otak berukuran terkecil sekalipun memiliki preferensi terhadap arah.

Menurut peneliti, penemuan ini juga bisa dimanfaatkan oleh para biolog yang tengah berusaha mencari cara untuk mengontrol kecoak baik untuk kebutuhan misi penyelamatan saat bencana, ataupun untuk mengontrol hama.


Deteksi TBC, Tikus Lebih Baik dari Manusia

Tikus mampu mendeteksi TB lebih baik dibanding manusia (dok. Corbis)

Ingin tahu apakah Anda mengidap Tuberculosis atau TB? Coba meludah ke arah tikus. Dari penelitian terbaru, tikus besar Afrika yang terlatih mampu mendeteksi TB 44 persen lebih baik dibanding manusia yang juga dilatih dan menggunakan mikroskop.

Pada penelitian, ilmuwan meneliti dahak dari 10.523 pasien di Tanzania. Awalnya, sampel-sampel ini dianalisa menggunakan mikroskop oleh sejumlah teknisi terlatih di pusat Direct Observation Treatment Short-Course (DOTS). Setelah itu, giliran tikus yang diberi kesempatan mendeteksinya.

Sebagai informasi, TB merupakan penyakit yang sangat mematikan. Secara global, penyakit ini memakan korban hingga 3 juta kematian per tahun.

Menggunakan analisa mikroskopik tradisional, terdeteksi bahwa 1.400 pasien mengidap TB positif. Yang menarik, jika tikus yang melakukan analisa, ternyata mereka yang mengidap TB positif mencapai 2.020 pasien.

“Menggunakan tikus pencium untuk mendeteksi TB tampaknya memang tidak lazim, akan tetapi dari penelitian kami, cara ini berhasil,” kata Alan Poling, ketua tim peneliti dari Western Michigan University, seperti dikutip dari TG Daily, 17 Desember 2010.

Penemuan ini, kata Poling, akan sangat bermanfaat di negara berkembang, di mana seperempat korban tewas akibat metode pendeteksi penyakit TB tersebut belum tersedia secara luas.

Sebanyak 10 tikus raksasa Afrika, yakni Cricetomys gambianus, dilatih untuk meneliti sampel dahak. Setiap kali mereka menemukan dahak yang mengandung tuberculosis, mereka mendapatkan hadiah pisang dan mereka tidak berhenti mengendus jika tidak mendeteksi adanya TB.

Meski terbukti tikus lebih akurat, akan tetapi validitas pengujian ini masih bisa diragukan. Peneliti belum menemukan apa yang membuat tikus sanggup mendiagnosis dahak tersebut.


Ular Mampu Terbang di Udara

Ular terbang (Livescience.com)
Bagi seseorang yang menderita Ophidiophobia (fobi terhadap ular), ular jenis Chrysopelea
mungkin merupakan mimpi terburuk mereka.Pasalnya, ular ini tak cuma bisa mendekati mangsa dengan merayap, melainkan juga bisa terbang di udara.
Menurut situs Discovery, para peneliti telah berhasil menjelaskan bagaimana ular-ular Chrysopelea bisa melayang hingga setinggi 80 feet atau 24 meter, di antara pepohonan habitatnya di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Para pakar biologi dari Virgina Tech telah meneliti ular-ular ini dengan menerjunkan mereka dari menara-menara yang tingginya lebih dari 49 feet atau 15 meter, dan merekam setiap gerakan yang mereka lakukan.
Ular ini terbang bukan dengan menentang gravitasi atau melakukan hal lain. Tapi magnitudo gaya yang dihasilkan ular ini memang mengejutkan. Aksi 'akrobatik' ini, ternyata bisa dilakukan dengan menggunakan tubuh ular yang aerodinamis.
"Bagian tubuh ular yang melintang, membentuk sesuatu yang biasanya dijumpai pada sebuah sayap tipikal. Kami tak mengira menemukan kinerja aerodinamik yang demikian baik," kata Jake Socha, peneliti riset ini.
Ular mampu mengangkat tubuh mereka dengan memanfaatkan kombinasi kelebihan bentuk tubuh dengan sudut yang ia ambil ketika menjemput angin, atau diketahui dengan istilah sudut serangan, kata Socha.
Misalnya saja, untuk lepas landas dari sebuah pohon, ular-ular ini menjatuhkan bagian depan tubuh mereka sehingga membentuk postur seperti huruf 'J', sebelum kemudian melompat dan berakselerasi untuk melayang.

Oleh karenanya, ular akan terangkat naik, walaupun kemudian akan tetap jatuh ke tanah, karena komponen gaya aerodinamik ke atas akan lebih besar daripada bobotnya sendiri.
Secara hipotetis, bila ular terus dalam kondisi seperti itu, mereka akan terus terangkat ke atas dan terbang. "Namun, model yang kami buat memperlihatkan bahwa efek aerodinamis yang dihasilkan ular hanya sesaat," Socha menerangkan.
Model tersebut, juga membantu para peneliti menjelaskan teknik melayang dari berbagai spesies lain seperti beberapa kodok, kadal, semut, ikan, dan ikan cumi-cumi.
Di masa depan, penelitian ini mungkin juga akan bermanfaat untuk memperbaiki kendaraan udara kecil, misalnya pesawat tak berawak dengan menduplikasikan metode efisiensi energi dari binatang-binatang ini.


Meneliti Obat Kini Bisa Dilakukan Lebih Cepat

Virus HIV tengah menempel pada sel (io9)

Membuat metode validasi untuk obat merupakan pekerjaan kompleks. Di bagian akhir pengembangan obat, bisa jadi kandidat obat yang akan digunakan untuk mengatasi penyakit, malah dibuang. Akhirnya, seluruh proses validasi yang dilakukan terhadap obat itu menjadi sia-sia.

Sebagai contoh, munculnya virus HIV pada tahun 1980-an memicu kalangan medis melakukan penelitian karena banyak pasien yang terenggut nyawanya akibat AIDS.
Ternyata, untuk menemukan virus yang bertanggungjawab terhadap penyakit itu saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan obatnya juga lebih panjang lagi.

“Dikhawatirkan, di masa depan, akan lebih banyak lagi virus yang merenggut jiwa manusia karena lambatnya proses ini,” kata Dr Ian Lipkin, seorang neurolog asal University of California, San Francisco, seperti dikutip dari NY Times, 16 Desember 2010. “Kita harus menemukan cara yang lebih baik untuk melakukan hal ini,” ucapnya.

Untuk menghindari usaha sia-sia, peneliti dari Bayer Schering Pharma mencari cara yang cepat dan sederhana dalam membuat metode yang stabil dan dapat digandakan dalam mengembangkan obat.

“Bagian paling sulit dari pengembangan obat adalah membuat stok solusi dan memodifikasi parameter untuk menentukan metode mana yang paling stabil,” kata Dr Michael Pfeffer, Lab Manager Bayer Schering Pharma.

Pfeffer kemudian melakukan sebanyak mungkin otomatisasi terhadap sejumlah langkah dalam tahapan pencarian obat. Sebuah sistem Agilent HPLC yang dilengkapi dengan autosampler berthermostat dan dikontrol lewat software ChemStation dipilih untuk mengembangkan metode analisis.

Sebuah bahasa pemrograman macro kemudian digunakan untuk membuat macro spesifik yang disebut sebagai “Validation Generator” atau Autoval yang membuat pencairan rutin untuk autosampler dan disaat yang sama membuat tabel pengulangan terhadap sampel tersebut.

Setelah sampel dijalankan, data kemudian diekspor ke Microsoft Excel untuk mendapatkan hasil kalkulasi.

Hasilnya, ternyata setelah menggunakan metode otomatisasi tingkat tinggi, analisis non stop dapat dijalankan dan menghasilkan penghematan waktu yang signifikan bagi tim peneliti di lab dalam melakukan risetnya.

“Metode otomatisasi ini, dikombinasikan dengan evaluasi yang sudah terstandarisasi terbukti menjadi bagian penting dalam metode validasi terhadap obat yang efektif,” kata Pfeffer. “Alur kerja otomatis juga memungkinkan reproduktivitas yang baik dan juga mengurangi dampak dari kesalahan penelitian secara manual,” ucapnya.


Fosil Bangau Raksasa Ditemukan di Flores

Ilustrasi artis yang menggambarkan tinggi Leptoptilos robustus dan manusia purba flores (dailymail.co.uk)

Fosil bangau dengan tinggi sekitar 180 sentimeter ditemukan di Indonesia. Fosil itu ditemukan di Flores, kawasan yang sama dengan penemuan fosil spesies manusia cebol, homo floresiensis yang hidup hingga sekitar 17 ribu tahun lalu.

Seperti diketahui, homo floresiensis merupakan spesies manusia purba yang sangat dekat dengan manusia modern, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Ditemukan pertama kali pada 2004, tinggi spesies ini umumnya hanya mencapai 90 sentimeter.

Spesies bangau baru yang ditemukan, diberi nama Leptoptilos robustus dengan tinggi mencapai 180 sentimeter itu berbobot hingga sekitar 16 kilogram. Menurut peneliti, ini menjadikan spesies bangau tersebut sebagai bangau terbesar dan terberat dibandingkan bangau Marabou yang tingginya bisa mencapai 152 sentimeter dan bobot seberat 9 kilogram.

Dengan tinggi 180 sentimeter, bangau yang tinggal di pulau yang sama dengan manusia Flores diperkirakan dapat mengganggu kehidupan manusia tersebut.

“Fosil bangau yang ditemukan berusia di antara 20 hingga 50 ribu tahun,” kata Hanneke Meijer, palaeontologis dari Smithsonian National Museum of Natural History di Washington yang menemukan fosil itu bersama Rokus Due, arkeolog dari National Center for Archaeology di Jakarta, Indonesia.

Sekitar 15 ribu tahun lalu, kata Meijer, seperti dikutip dari UPI, 10 Desember 2010, iklim di Flores berubah dari kering menjadi basah. “Kemungkinan, perubahan iklim ini yang menyebabkan sejumlah spesies di pulau tersebut menjadi punah,” ucap Meijer.

0 komentar:

Poskan Komentar

About me

My name is Icha Larmytha. I am 19 years old. I graduated in 2009 at the State Vocational High School Pasirian. And now I work in one of the internet cafes in the city exactly in Pasirian Lumajang in East Java Indonesia. Less than 1 year I was wrestling in the world of work. I am very happy for helping the people who need help from me.

Recent Comments

Search Box

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More